Keluarga Korban Ikhlas dan Serahkan Pada Proses Hukum

Diantar keluarga dan pengurus kampung, SS menyerahkan diri ke Polres Kutai Barat pada Rabu, 24 Maret 2021. SUNARDI/KATABORNEO.COM

KUTAI BARAT – KATABORNEO.COM
SS yang berusia 37 tahun, akhirnya menyerahkan diri ke pihak kepolisian pada Rabu, 24 Maret 2021. Ia pun ditetapkan sebagai tersangka atas perkelahian yang mengakibatkan Benariko alias Eko, 25 tahun, meninggal dunia. Lantas apa motif duel yang berujung maut tersebut?

Saat sepakat menyerahkan diri dan dijemput keluarga serta sejumlah pengurus Kampung Linggang Bigung, Kecamatan Linggang Bigung, SS sempat membuka mulut. Ia mengaku tidak paham apa yang memicu atau motif perkelahiannya dengan korban.

Ia pun mengaku tidak mengetahui, jika perkelahian itu berujung kematian Eko. “Saya baru pulang dari bantu keluarga. Saat tiba, diserangnya (korban),” jawabnya singkat kepada mereka yang menjemputnya untuk menyerahkan diri ke Polisi.

Sementara Rahmadi yang menjadi saksi mata duel berujung tragis itu, mengakui tidak tahu apa yang melatarbelakangi perkelahian itu. “Ya, dia (SS) pulang bantu kami ada acara keluarga di jalan Muara Asa. Soal awal mula kejadian, saya tidak tahu juga. Saat saya tiba, sudah melihat mereka berkelahi,” akunya.

Rahmadi, saksi mata perkelahian yang mengakibatkan kematian Eko. SUNARDI/KATABORNEO.COM

“Saya berusaha melerai dengan melepaskan tangan pelaku yang menjambak rambut korban, sambil memukul. Tapi terlalu kuat, makanya tidak bisa dilepas,” ungkap Rahmadi kepada KataBorneo pada Senin, 22 Maret 2021.

Rahmadi yang mengaku saksi mata kejadian tersebut, menyebut lawan duel Eko adalah SS, berusia 37 tahun yang merupakan tetangga. Aksi duel maut yang berujung tragis itu terjadi tidak jauh dari bundaran tugu Kecamatan Linggang Bigung.

Ia menuturkan, awalnya ia bersama istri pulang dari ladang sekira pukul 18.00 Wita pada Minggu, 21 Maret 2021 itu. Saat melihat kedua pemuda terlibat perkelahian, ia menegur. Namun keduanya tidak menggubris. Rahmadi pun mengantarkan istrinya ke rumah yang kebetulan hanya berjarak belasan meter dari tempat kejadian perkara atau TKP.

Saat kembali ke TKP ia pun mencoba melerai dengan melepas pergumulan keduanya. SS sempat menyebut nama Rahmadi sebanyak dua kali, dan mengatakan membawa pisau. Seraya mencabut pisau yang terselip di pinggangnya. “Lihat ada pisau, saya pun mundur,” katanya soal gagal melerai perkelahian itu.

Masih menurut Rahmadi, Eko mengambil sepotong kayu dan memukul lawannya yang mengenai bagian pelipis SS. Melihat SS terjatuh dengan pisau di tangan kanannya, Eko kembali memukul SS.

Sempat Dilerai, Seorang Pemuda Tewas Disabet Senjata Tajam Saat Duel

Namun tidak disangka-sangka, SS yang dalam posisi terjatuh, menusukkan pisau yang dipegangnya dari arah bawah ke tubuh Eko. Hal itu mengakibatkan luka tusukan di bagian dada dan perut Eko. Akibat luka itu, perkelahian pun terhenti.

Setelah membuang pisau ke arah belakang rumahnya, SS lalu pergi dengan menggunakan sepeda motornya. Hingga berita ini diturunkan,keberadaannya tidak diketahui. “Korban sambil mengusap lukanya, lalu pulang ke rumahnya yang tidak jauh dari TKP,” bebernya.

Melihat hal itu, Rahmadi segera melaporkan kejadian tersebut ke polisi dan Kepala Kampung Linggang Bigung. Saat polisi datang, Eko ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di rumahnya. “Saya juga tidak tahu apa penyebab mereka berkelahi,” ujarnya.

Sementara itu, Rima selaku Ketua RT 1 Kampung Linggang Bigung mengungkapkan perilaku sehari-hari korban. “Ya kalau saat tidak terpengaruh Ngelem, dia normal saja. Jika ada kegiatan warga, kadangkala korban bantu. Tapi kalau sudah terpengaruh Ngelem, korban ini suka teriak-teriak, ngamuk sambal bawa sajam,” jelasnya.

Rima, Ketua RT 1 Kampung Linggang Bigung, Kecamatan Linggang Bigung, Kabupaten Kutai Barat. SUNARDI/KATABORNEO.COM

Ibu korban, Miwonati mengatakan, Eko adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Diakui Eko sebelumnya normal saja. Semenjak terpengaruh dan kecanduan ngelem, perilakunya berubah drastis.

Berbagai upaya telah dilakukan pihak keluarga. Baik secara medis dengan dua kali rehabilitas di rumah sakit, maupun upaya pengobatan non medis lainnya. Namun tak juga membuahkan hasil. “Yang sudah terjadi begini, yang meninggal tidak bisa kembali lagi. Walaupun kami keluarga sangat terpukul dengan kejadian ini, namun kami serahkan sepenuhnya ke polisi,” kata Miwonati.

SS menyerahkan diri ke Polisi setelah empat hari melarikan diri dan bersembunyi di dalam hutan. Ia menyerahkan diri ke Markas Polres Kubar dengan diantar sejumlah keluarganya dan Kepala Kampung atau Petinggi Linggang Bigung, Bastianus. SS kabur usai perkelahian yang mengakibatkan Binariko alias Eko, 25 tahun, meninggal dunia.

“Ya, sudah menyerahkan diri dan ditetapkan sebagai tersangka,” kata Kepala Polres Kubar AKBP Irwan Yuli Prasetyo kepada KataBorneo melalui pesan singkat pada Kamis, 25 Maret 2021.

Menurut Bastianus, dalam persembunyiannya pelaku membaca pesan singkat Fredy yang adalah Ketua Karang Taruna Kampung Linggang Bigung, Kecamatan Linggang Bigung. Fredy menyarankan agar SS menyerahkan diri.

Diakuinya, proses komunikasi melalui pesan singkat atau short message service dengan SS tergolong a lot. Karena SS dalam kondisi panik dan labil. Sehingga kadang-kadang menyebut mau menyerahkan diri, lalu tidak jadi, dan terkadang mau bunuh diri.

“Kita bersyukur, pertimbangan terakhir yang diambil adalah menyerahkan diri. Tapi minta didampingi oleh aparat kampung,” ungkap Bastianus.

Dijelaskan Bastianus, setelah SS sepakat untuk menyerahkan diri, ia dan keluarga SS segera menghubungi pihak kepolisian. Sesuai aturan yang berlaku, pihak kepolisian turut dalam penjemputan tersebut. Berbekal komunikasi lewat SMS tersebut, tersangka dijemput di persembunyiannya.

Lokasi perkelahian yang berujung maut pada Senin, 21 Maret 2021. SUNARDI/KATABORNEO.COM

Setelah dijemput, sekira pukul 13.00 Wita, aparat kampung, staf lembaga adat, karang taruna, dan didampingi pihak kepolisian menyerahkan SS ke Polres Kubar.

Ditanya persembunyian SS, diakui jauh di dalam hutan atau ladang yang masuk dalam wilayah Kampung Balok Asa, Kecamatan Barong Tongkok yang tidak bisa dilalui kendaraan. “Akses satu-satunya hanya jalan kaki,” kata Bastianus, seraya berpesan kepada seluruh masyarakat agar tetap tenang. Sebab terduga pelaku sudah diamankan dan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Terkait penyerahan diri itu, pihak keluarga SS bisa merasa lebih tenang dan tidak panik. Serta menepis kekhawatiran jika SS melakukan hal di luar kendali, seperti bunuh diri.

SS yang masih merupakan tetangga korban di Gang Pisang RT 1 Kampung Linggang Bigung itu sebelumnya tidak diketahui keberadaannya dan tidak bisa dihubungi. Namun upaya pencarian terus dilakukan berbagai. Tidak hanya aparat kepolisian, dan pemerintahan kampung, keluarga SS pun intens menghubungi via SMS. Berharap SS membuka pesan dan bersedia menyerahkan diri. #Sunardi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here