Mengidap Penyakit Aneh Hingga Tinggi Badan Kurang Dari Semeter

Resti sudah berusia 11 tahun, tapi hanya mampu berbaring karena tubuh yang lumpuh dengan penyakit yang tidak diketahui sebabnya. SONNY LEE HUTAGALUNG/KATABORNEO.COM

KUTAI BARAT – KATABORNEO.COM
Edi dan Resti hanya mampu berbaring sejak masih berusia di bawah tiga tahun atau balita. Dua saudara kandung ini mengidap penyakit aneh, membuat keduanya tidak bisa merasakan dunia anak-anak sebenarnya. Hingga remaja, tubuh keduanya sama panjang dengan struktur tubuh yang serupa. Uluran tangan penuh kasih dibutuhkan untuk membantu kesusahan keduanya.

Edi terlahir sebagai laki-laki pada November 2001 lalu. Di usianya yang menjelang 19 tahun, tubuhnya hanya setinggi sekitar 50 centimeter. Meski bisa digerakkan, panjang tangannya hanya 35 centimeter dan bentuknya tidak normal.

Panjang lengan pun tidak seperti remaja seusianya, dan keseluruhan tangan meliuk membentuk huruf Z. Kaki pun hanya sepanjang sekitar 20 centimeter dan tampak kecil. “Siapa yang tidak menetes air mata melihat saudara kita ini,” bisik Muis kepada KataBorneo, saat mengunjungi rumah sederhana di RT 9 Kampung Intu Lingau, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur itu.

Edi, lahir pada November 2001, tumbuh tidak sempurna sejak usia dua tahun. SONNY LEE HUTAGALUNG/KATABORNEO.COM

Nasib serupa dialami Resti, remaja putri yang lahir pada 17 Agustus 2009 lalu. Resti yang adalah adik kandung Edi, mengidap penyakit aneh seperti kakaknya. Ia pun hanya terbaring tidak jauh dari Edi yang tampak sibuk menarik tali untuk menidurkan adiknya di ayunan.

“Semoga ada banyak orang bisa tergerak hatinya untuk membantu kedua adik kita ini. Setidaknya bisa meringankan beban keluarga di rumah ini,” ujar Yanti, warga Kelurahan Simpang Raya Kecamatan Barong Tongkok, yang datang bersama suaminya, Muis, untuk memberi bantuan kepada Edi dan Resti.

Diungkapkan Sulit, ia dan istrinya Ngasih, telah berupaya untuk mengobati sakit kedua anaknya itu. Namun, medis yang mereka temui pun mengaku tidak tahu penyakit apa yang diderita Edi dan Resti. Sehingga membuat mereka putus asa, dan kondisi putra dan putrinya tersebut tetap sejak usia balita.

Sulit yang kelahiran tahun 1974, mengakui awalnya Edi tampak normal dan gemuk hingga usia 18 bulan. Saat berusia dua tahun, Edi disebut pernah jatuh saat mencoba memanjat palang penghalang di pintu rumah. Namun seperti palang biasa di setiap rumah yang ada anak balita, dianggap tidak masalah.

Yanti dan Muis, pasangan yang sesekali mengunjungi Edi dan Resti di RT 9 Kampung Intu Lingau, Kecamatan Nyuatan. SONNY LEE HUTAGALUNG/KATABORNEO.COM

Hanya saja, setelah itu Edi mengeluh sakit di sela setiap sendinya. Sebagai warga kampung yang menghargai adat budaya leluhur, diminta untuk melaksanakan ritual adat untuk pengobatan. “Dulu itu, kakek sarankan Belian. Pernah Edi terpeleset di karpet, dan pahanya patah. Tapi masih bisa sembuh dan bisa berjalan,” kisahnya kepada KataBorneo.

Karena masih mengeluh sakit, Edi yang masih kecil dibawa berobat ke dokter. Bukannya sembuh, sakit Edi disebut malah bertambah parah. “Umur tujuh tahun kami bawa ke rumah sakit di Samarinda (RSU AW Syahranie). Dibantu pak camat (Camat Nyuatan tahun 2005, Sabran) yang menanggung biaya,” imbuh Sulit.

Selama sepekan Edi menjalani perawatan dengan diinfus di ruang Flamboyan RSU AW Syahranie. Kemudian petugas di rumah sakit tersebut menyarankan agar Edi dirujuk ke Kota Malang di Provinsi Jawa Timur.

Sulit dan Ngasih pun makin sedih. Jangankan untuk berobat ke Pulau Jawa, ke Samarinda pun atas bantuan Sabran, yang menjadi Camat Nyuatan pertama. Lalu seorang rekan kerja Sulit sewaktu bekerja di PT Sumalindo Lestari Jaya di Kecamatan Long Bagun datang menjenguk. Kebetulan temannya itu adalah seorang perawat.

“Kawan itu minta jangan dulu berangkat, besoknya dia datang lagi bersama seorang dari Malang. Mereka bilang, belum tahu jenis penyakit anak saya ini. Biar lewat dari Malang katanya, tidak akan dapat mengobati. Akhirnya kami kembali ke Lingau,” jelasnya.

Menurut Ngasih, putrinya Resti justru tidak pernah ada riwayat terjatuh atau celaka. Saat usia Resti delapan bulan, tiba-tiba tidak dapat menggerakkan anggota tubuhnya. Beruntung akhirnya Resti bisa menggerakkan kedua tangan dan kepala.

“Kalau dia ini (Resti), bisa pindah tempat sendiri. Jadi kalau dia bosan, pindah tapi tidak jauh. Ada yang mau kasih kursi roda, tapi kami bilang tidak usah. Karena Edi dan Resti tidak bisa duduk, malah sakit semua badan mereka. Jadi harus baring,” ungkapnya.

Edi adalah anak kedua dari pasangan Sulit dan Ngasih. Anak pertama adalah Rista yang berusia 21 tahun. Rista menikah dengan Hamadi alias Ciong, seorang Gembala Gereja Kebangunan Kalam Allah Jemaat Intu Lingau pada tahun 2016. Hanya saja, telah dua tahun lebih tidak diketahui rimbanya sejak pergi tanpa pamit dari Lingau.

Meski lumpuh, Resti mampu berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Indonesia dan lancar. Kecerdasannya bisa dikatakan melebihi kemampuan remaja seusianya. SONNY LEE HUTAGALUNG/KATABORNEO.COM

Resti anak ketiga, dan masih ada dua adiknya. Yakni Iren yang berusia 26 bulan dan Julio 18 bulan. “Kami tidak tahu di mana sekarang Rista dan suaminya. Mereka pergi diam-diam, dan tidak pernah kasih kabar. Dulu suaminya itu bilang orang suku Kahayan dari Lamandau (Provinsi Kalimantan Tengah). Tolong kalau ada yang kenal, atau tahu dimana mereka, kami rindu,” kata Ngasih dengan lirih.

“Saya suka minum Indomilk, yang rasa stroberi,” kata Resti, saat ditanya apa makanan dan minuman yang dia suka. “Sembarang (terserah) saja,” jawab Edi dengan pertanyaan yang sama.

Meski lumpuh, kecerdasan Edi dan Resti tampak seperti remaja normal. Saat ada tamu berbincang dengan kedua orangtuanya, Edi dapat menjawab pertanyaan yang tidak mampu dijawab ayah dan ibunya.



“Pintar anak dua ini. Bahasa Indonesia mereka juga bagus, padahal biasanya anak normal di kampung pelosok begini, tidak banyak yang mampu berbahasa selancar dan bagus seperti Edi dan Resti. Mereka tidak sekolah, tapi pintar dan bisa main Facebook lagi,” ungkap Ekilovis, seorang jurnalis.

Untuk menuju Kampung Intu Lingau, menempuh jarak sekitar 57 kilometer dari ibukota Kabupaten Kutai Barat di Barong Tongkok. Diawali menuju ibukota Kecamatan Linggang Bigung dengan jarak 15 kilometer, kemudian berbelok ke kiri di jalan aspal menuju Kampung Linggang Tutung.

Setelah menempuh jarak sekitar 17 kilometer, tibalah di simpang jalan menuju Intu Lingau yang berada di Dusun Ketang. Masuk kiri dan menyusuri jalan aspal dan semenisasi melewati Kampung Lakan Bilem sejauh 25 kilometer, tibalah di Kampung Intu Lingau. #Sonny Lee Hutagalung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here